Berpihak Pada Kewajaran, Antologi Pemikiran Sudirman Said

Minggu (21 Mei 2017) bertempat di Rumah Jawa Galeri Jl. Kemang Timur Raya No.99, Sudirman Said mengadakan acara peluncuran buku perdana yang merupakan antologi pemikiran beliau yang ditulis maupun yang dipublikasikan sejak Sudirman menjabat Menteri ESDM (27 Oktober 2014) hingga dirgahayu ke-54 tahunnya yang jatuh pada 16 April 2017. Durasi penulisan seluruh tulisan, kecuali esai Ibuku Keren! Tidak Sekolah tapi Visioner (ditulis pada pengujung 2013), mencakup 30 bulan.

Sesuai judul, buku ini pada dasarnya merupakan percikan pemikiran Sudirman Said berupa epigram, esai/opini, wawancara, hingga pidato/ceramah. Tema utama yang mendominasi antara lain: integritas, kompetensi, dan kepemimpinan. Keseluruhannya terangkum dalam 170 tulisan yang kemudian dihimpun menjadi sebuah buku setebal 550 halaman.

Sudirman Said yang pernah menjadi koresponden majalah Tempo di Washington, hingga saat ini masih gemar menulis di sela-sela kesibukannya. Seusai bertugas sebagai Menteri ESDM, banyak kolega mengusulkan agar ada baiknya puluhan bahkan ratusan coretan yang Ia tulis pada saat menjabat tidak disimpan saja. Banyak informasi, isu, peristiwa, dan pengalaman yang perlu didokumentasikan dan dibagikan agar bisa diketahui dan dimanfaatkan khalayak yang lebih luas, setidaknya oleh kalangan terdekat. Timbang-ditimbang, akhirnya usulan para kolega tersebut diterima dan diwujudkan, hingga jadilah buku ini. “Andai boleh berharap, catatan-catatan yang terhimpun di buku ini semoga menjadi bahan pembelajaran bagi generasi mendatang, seberapa pun kecilnya,” kata Sudirman Said.

Perasaan berutang pada negara dan kehormatan diberi privilese, sejak terpilih sebagai mahasiswa STAN, yang belakangan mengubah total perjalanan hidup Sudiman dan keluarga (lebih jauh, baca “Orang Biasa”), hingga dalam perjalanan dan posisinya saat ini. “Saya sadar sepenuhnya, bahwa tidak menjadi apa-apa saja saya sudah harus banyak bersyukur. Ketika ternyata saya menjadi apa-apa, dan kemudian kemenjadian itu selesai, saya tentu harus lebih banyak bersyukur lagi,” ungkap Sudirman.

Anugerah dan kemujuran dari Tuhan itu, belajar dari wiyana dr. Rajiman Wedyodiningrat (baca “Tenaga dalam Dokter Radjiman”), pasti bukan dimaksudkan untuk diri Sudirman dan berhenti pada Sudirman semata. Itu harus dibagi-sebarkan. Buku ini adalah salah satu medium bagi upaya “penyebaran anugerah dan kemujuran” itu.

Keseluruh materi dalam buku ini disusun sesuai urut kronologis dan dipilih-pilah ke dalam empat bab, yakni:
Winaya (epigram-epigram yang singset dan sublim, didominasi cuitan di akun twitter @sudirmansaid), terdiri dari 109 epigram yang dibuhul dalam 6 tandan subbab, masing-masing berjumlah 22, 11, 18, 14, 36, dan 8 epigram; Wacana (cetusan ide dalam suatu esai/opini yang hampir seluruhnya telah dipublikasikan): 21 esai/opini; Wawancara (tanya-jawab oleh pewarta yang kemudian dipublikasikan di media bersangkutan): 26 wawancara dan Wicara (transkripsi pidato/ceramah): 14 transkrip.

Pada acara peluncuran buku Berpihak Pada Kewajaran tersebut tampak hadir sejumlah tokoh Nasional, di antaranya: Kuntoro Mangkusubroto, Nur Pamudji, Edriana Noerdin, Timbo Siahaan, Ferry Mursyidan Baldan, Tatat Utomo Dananjaya, Rocky Gerung, Erwin Aksa, Agung Wicaksono, Silmy Karim, Bambang Harymurti, Effendi Gazali, Erry Riyana Hardjapamekas, dan teman-teman Sudirman Said lainnya. Turut diundang pula Arif Zulkifli (Pimred Majalah Tempo) dan Budiman Tanuredjo (Pimred Harian Kompas) sebagai pengulas buku. Acara peluncuran buku yang berlangsung hangat dalam balutan suasana Jawa tersebut dipandu oleh Ichan Loulembah.

Save


blog comments powered by Disqus