Berbuat untuk Negeri melalui Sekolah Anak Bahari

Bagus Muhammad Rizal, pemuda berusia 21 tahun, menggagas Sekolah Anak Bahari. Sekolah Anak bahari adalah Komunitas yang fokus pada anak-anak Pesisir. Sekolah ini berada di Kampung Tanjung Kait, RT 1, RW 1, Desa Tanjung Anom, Kecamatan Mauk, Kabupaten Tangerang.  Bagus mengungkapkan bahwa ide ini berawal dari sebuah pelatihan kemaritiman yang Ia ikuti di Yogyakarta. Di pelatihan tersebut, ia disadarkan bahwa potensi kemaritiman Indonesia sangatlah besar. Kemudian saat pulang iapun tergerak untuk membuat sesuatu di daerah. Ternyata setelah melakukan survei selama 3 bulan. Ada dua fokus yang bisa digerakkan, yaitu pendidikan dan lingkungan. Ia pun kemudian mencari data ke Dinas Pendidikan, ternyata angka putus sekolah dan angka buta aksara di daerah pesisir itu cukup tinggi. Maka muncullah ide Sekolah Anak Bahari ini.

Bagus memang pemuda yang aktif. Ia memiliki banyak sekali prestasi mulai duta pemuda antinarkoba Kabupaten Tangerang hingga delegasi Indonesia untuk pertukaran pemuda Indonesia dan Tiongkok. Hal tersebut tentu menjadi dorongan kuat untuk berbuat lebih di daerah Tangerang. Dia kemudian mengajak 4 temannya yang memiliki ketertarikan yang sama untuk membuat Sekolah Anak Bahari ini. Tidak mudah mencari teman yang sevisi dengannya. Bagus menceritakan bahwa saat mencari teman untuk diajak, sampai harus membuat daftar nama orang untuk ditemui. Hingga akhirnya bertemulah Ia dengan 4 orang yang benar-benar mau membantu untuk mendirikan Sekolah Anak Bahari ini.

Kurikulum Kebaharian

Sekolah Anak Bahari ini dilakukan setiap minggu. Kini, anak didik di Sekolah Anak Bahari sudah mencapai 100 terdiri dari anak-anak yang belum sekolah hingga kelas V dan 20 an anak yang memang putus sekolah. Mereka yang putus sekolah ini sebenarnya didukung oleh orang tua untuk sekolah. Tapi anak-anak itu memilih untuk mencari uang.

Kurikulum pengajaran yang digunakan di Sekolah Anak Bahari ini dibagi menjadi 3 konsep pembelajaran yaitu Minggu ke 1 dan ke 2 setiap bulannya Sekolah Anak Bahari ini akan mengajarkan pelajaran formal seperti yang ada di sekolah untuk menambah pengetahuan mereka karena pembelajaran di daerah tersebut cukup tertinggal. Sedangkan minggu ke 3 fokus kebaharian, dan minggu ke 4 ada pendidikan agama, kesenian dan hal-hal yang membangun kreativitas anak. Setiap minggunya kelas berlangsung selama 3 jam. Pengelolaan kelas ini dilakukan oleh volunteer. Bagus mengatakan bahwa hingga kini sudah memiliki 60 volunteer yang mau mengajar di Sekolah Anak Bahari. Volunter ini berasal dari berbagai lapisan; ada mahasiswa, PNS, atau bahkan pekerja pada umumnya yang direkrut melalui sosial media.

Siswa-siswi sekolah Anak Bahari mendapatkan pelatihan kesehatan menggosok Gigi

Untuk pengetahuan kebaharian, anak-anak didik Sekolah Anak Bahari mendapatkan sosialisai gemar makan ikan. Karena nelayan di Kampung Tanjung Kait merupakan nelayan buruh, jadi ikan yang diperoleh akan diserahkan ke pengepul. Sehingga anak-anak nelayan itu tidak sering makan ikan. Selain itu, Sekolah Anak Bahari juga konsen pada lingkungan terutama pada sampah-sampah di sepanjang pesisir pantai, dan  sosialisasi tentang mangrove.

Sekolah Anak Bahari melakukan penanaman Mangrove

Dukungan Berbagai Pihak

Sekolah Anak Bahari ini awalnya tidak memiliki ruangan. Namun, kini respon masyarakat dan perusahaan sekitar cukup baik. Meskipun diawal pendiriannya, Sekolah Anak Bahari ini awalnya pernah disangka salah satu kegiatan politik. Sempat pula dikhawatirkan oleh aparat pemerintahan daerah masyarakat karena akan merepotkan aparat desa dan lain sebagainya. Tapi Bagus dan tim memiliki kemampuan untuk mengajak dan akhirnya aparat desa pun menyetujui Sekolah Anak Bahari ini. “Awal nya baru 5 relawan dengan 100 siswa itupun alasnya tikar yang dipinjam dari pak RT. Awal bulan ke 4 kami diliput media lokal, dan berita itu sampai ke perusahaan daerah akhirnya kitapun dibantu satu lokal kelas. Itu ngebantu banget.” Kenang Bagus.

Bagus mengaku hingga kini,  belum ada kerja sama jangka panjang antara Sekolah Anak Bahari dengan lembaga, institusi dan perusahaan. Namun untuk kerja sama jangka pendek, Ia mengaku telah kerjasama dengan beberapa perusahaan seperti sumi kabel, CSR pegawai dari anak perusahaan pertamina, koperasi syariah dan lain-lain. Untuk saat ini, menurutnya, Sekolah Anak Bahari tidak  mengirimkan proposal ke lembaga-lembaga karena masih proses penguatan secara internal dari tim sekolah Anak Bahari.

Kegiatan rutin untuk menjalankan Sekolah Anak Bahari ini didanai oleh para volunteer. “Saya menemukan orang yang sudah mau berkorban waktu dan volunteer ini mau iuran. Jadi kami pun mengambil dana dari situ.” Ungkap Bagus yang memiliki kemampuan pelibatan relawan sangat baik.

Tantangan dan Pengembangan ke Depan

Tantangan paling inti menurut Bagus adalah membuat kurikulum sendiri. Sekolah Anak Bahari ini punya volunteer yang  fokus ke pendidikan. Tantangan lainnya, adalah konsistensi relawan yang masih bergantung pada kehadiran Bagus. Ia pun bercerita di tengah-tengah perjalannya membuat Sekolah Anak Bahari pernah mengalami masa ditinggal oleh tim. Namun kini, Sekolah Anak Bahari sudah memiliki 10 orang inti pengurus harian. Maka menurutnya memang perlu manajemen yang baik dalam pengelolaan tim dan relawan ini.

Bagus berharap Sekolah Anak Bahari ini akan menyebar ke pesisir pantai yang lain. Harapan yang lain adalah membuat sekolah formal. Saat ini, Bagus dan tim sedang mengurus proses pembentukan Yayasan Sekolah Anak Bahari. Dampak Sekolah Anak Bahari ini cukup dirasakan oleh siswa-siswi di sekitar pesisir pantai. Ke depan, Ia dan tim akan melebarkan fokusnya tidak hanya pada pendidikan tapi juga ekonomi dari para nelayan di sekitar pantai. Program ini akan menjadi program jangka panjang. Saat ini Sekolah Anak Bahari sedang mengusahakan program sekolah paket. Sasaran sekolah paket ini adalah anak-anak putus sekolah di Sekolah Anak Bahari dan nelayan yang belum memiliki ijazah sekolah formal. Program paket ini akan direalisasikan pada 2018 karena saat ini masih proses pengurusan legalitas yayasan. (afd)


blog comments powered by Disqus