Korupsi Gawat Darurat

Catatan di Hari Anti Korupsi se-Dunia (9/12/2018)
Oleh: Sudirman Said *)

Tahun ini, peringatan hari Anti Korupsi se-Dunia 9 Desember 2018 ada dalam suasana tahun politik.  Lazimnya suasana tahun politik,  segala wacana campur-aduk antara evaluasi dan janji-janji, antara harapan dan kenyataan.  Dalam proses kontestasi, petahana pasti jadi sasaran evaluasi, penantang terus berupaya menjual janji.  Penantang berusaha memberi harapan tentang masa depan yang diangankan, petahana akan mempertahankan kenyataan.  Apapun perspektifnya, haruslah kita akui korupsi kita memang sudah dalam situasi darurat.  Tidaklah salah kalau ada yang menyebutnya sudah sudah seperti kanker stadium 4.  Tentu saja kanker itu istilah medis yang sekedar dipinjam untuk menggambarkan betapa gentingnya keadaan; sehingga kita dapat bergegas untuk menanganinya dengan serius.

Selanjutnya

Kapasitas vs Elektabilitas

Hari pertama pendaftaran calon presiden dan Calon wakil presiden berlalu tanpa pendaftar. Hiruk-pikuk calon wakil presiden juga sepertinya tidak kunjung usai. Partai dan koalisi menyebar banyak nama cawapres yang sebenarnya satu bentuk uji publik tokoh yang bisa diterima rakyat saja. Jika saja petahana dan penantang sudah percaya diri dengan pilihan pasangan maka seharusnya tanggal 4 Agustus 2018 kita sudah memiliki gambaran calon presiden dan wakilnya.

Selanjutnya

Strategi Budaya Dalam Pemberantasan Korupsi

Semakin disadari bahwa pendekatan formal konvensional selama ini belum sepenuhnya efektif dalam menyelesaikan masalah-masalah korupsi.  Usaha-usaha itu meski sudah dilakukan sejak lama, mulai dari membuat undang-undang, pembentukan lembaga antikorupsi, bongkar pasang pejabat, hingga membuat kebijakan-kebijakan baru untuk menghadang korupsi seperti kebijakan reformasi birokrasi.  Namun semua itu hasilnya masih jauh panggang dari api.  Pada prakteknya korupsi masih saja terus terjadi dimana-mana.   Keberadaan korupsi seolah mengejek kita semua; makin diteriaki makin berani, makin ditekan makin menantang dan  makin dihadang makin melawan.  Pendeknya, korupsi bagai serdadu perang yang masih gagah berani.

Selanjutnya

Kekurangan Ahok Adalah Dia Tampil Sebagai 'Superman'

Mengurus pemerintahan, kata Sudirman Said sebagai ketua Tim Sinkronisasi, tidak sama mengurus perusahaan.

tirto.id - Sejak pasangan Anies Baswedan dan Sandiaga Uno memenangkan Pilkada Jakarta, Sudirman Said dipercaya memimpin Tim Sinkronisasi untuk melakukan komunikasi dengan jajaran birokrasi Pemprov Jakarta. Tim Anies-Sandiaga ini rutin menggelar pertemuan dengan Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) setiap Selasa dan Kamis. Mereka memaparkan program yang bakal direalisasikan gubernur dan wakil gubernur terpilih ketika resmi menjabat, Oktober mendatang.

Selanjutnya

Indonesia Butuh Pemimpin Yang Mencerdaskan*

Menjadi negara bangsa besar yang majemuk, Indonesia menghadapi tantangan besar dalam mengelola kompleksitasnya. 81.826 desa, 98 kota, 416 kabupaten, tersebar di 34 provinsi. 255 juta jiwa rakyat kita hidup di tengah suku suku yang jumlahnya mencapai 1.128, dengan ragam budaya dan keyakinan amat beragam. Mereka berbicara dalam 719 bahasa etniknya, disamping tentu saja bahasa pemersatu: Bahasa Indonesia.

Selanjutnya
Page 1 of 4